Selasa, 22 Januari 2013

Script Pertama


Hari 1: Mei 2010
“Kukuruyuk!!” pekikan ayam jantan itu memaksaku untuk bangun. Aku mengucek-ucek mataku dan melihat jam di atas meja kecil samping kasur. Hoam.. baru jam 5.30. Artinya, aku masih punya sisa waktu 30 menit untuk tidur lagi, sebelum benar-benar bangun dan menyiapkan sarapan. Hari ini pasti jadi hari yang berat.
        Tapi.. Tiap hari bukankah selalu menjadi hari yang berat? Setidaknya.. Mungkin sebelum sesuatu itu terjadi.
“Haaah..” aku menghela napas perlahan dan menutup mataku kembali. Aku belum ingin terbangun. Tolong jangan bangunkan aku! Teriakku dalam hati.
Beberapa lama kemudian weker-ku berbunyi heboh. Rasanya ada getaran super dahsyat yang menggoncang-goncang kasurku.
Sampai kapan aku harus seperti ini? Aku lelah menjadi robot. Bahkan tidur pun harus ada batasan waktu. Juga setiap kegiatan yang ku lakukan setiap hari sudah tertata, terjadwal, dan tersusun seperti kehendak bos besar!
        Oke, saatnya bangun dan tak boleh mengeluh terus seperti ini, Va! Kamu pasti bisa melewati hari ini! Kamu pasti bisa!

Selasa, 17 April 2012

Surat Kecil Untuk Bintang :)


                “halo sahabatku, apa kabar dirimu ? Lama kita tak berjumpa. Dan musim pun berganti..”

Hari-hari berlalu begitu cepat.
Sampai akhirnya aku menyusuri jalanan ini lagi.
Sudah tahun keempat kita tak berjumpa. Apa kabarmu ?
Apakah sekarang tinggimu sudah bertambah ?
Dan harum tubuhmu, apakah masih sama seperti dulu ?
Juga tawamu yang sangat ku kenali. Apakah juga masih seperti dulu ?

Hari ini harusnya kita rayakan bersama.
Hari ulang tahunmu, Sobat. Tapi kau ada dimana ?
Aku masih Sobat kecilmu yang sering menanti kehadiranmu.
Sekarang tempat ini kotor sekali.
Bangku ini juga sudah berdebu.
Tapi ruangan ini masih seperti saat itu.
Catnya masih putih.
Dan mejanya tetap ada disebelah sana.
Hanya saja, bau ruangan ini tak sama lagi.
Bau apek dan debu mendominasi.
Sebutir air mata turun melintas dipipiku.
Dulu, tempat ini selalu ramai oleh tawa kita.
Selalu menjadi tempat aku bersembunyi untuk menangis.
Disini juga kita sering bernyanyi dan mengubah lirik-lirik lagunya.
Tempat ini memiliki berjuta kenangan.
Saat kita bersama adalah hal terindah yang takkan aku lupa.
Dan sekarang aku berdiri dalam ruangan ini.
Sendiri.
Aku tak dapat menahan sebuah pertanyaan melintas dalam otakku.
“apakah kau pernah datang juga kesini ?”
Lalu aku berjalan menelusuri kelas demi kelas.
Semua tak berubah.
Apakah hati kita juga seperti itu ?
Aku meneliti setiap kenangan yang pernah kita buat dalam tiap-tiap kelas.
Dikelas ini, kita pernah bermain boneka.
Lalu dikelas ini, kita pernah makan siang bersama.
kemudian dikelas ini, kita pernah menggambar wajah kita dipapan tulis.
Dan dikelas yang terakhir, kita pernah berdoa bersama.

Hari ini harusnya kita rayakan berdua, Sobat.
Aku terenyuh mengingat semua itu.
Segala hal tentang dirimu.. dan aku.
Walau musim gugur telah berakhir, namun tak sedikitpun kenanganmu gugur dalam memoriku.
Hari sudah mulai sore.
Titik-titik salju turun. Dan angin berhembus kencang.
Aku mengadah ke atas, melihat langit.
Apakah kau disana juga merasakan dinginnya salju ?
Tapi semoga saja, hati kita tak beku seperti salju-salju ini.


Salam sayang untukmu, Bintang.
Dari yang selalu merindukanmu,
Arancxa Irene Mathilda

Rabu, 21 Desember 2011

Hera

Hera (bahasa Yunani: Ἥρα atau Ἥρη) adalah dewi pernikahan adalah dalam mitologi Yunani. Hera merupakan kakak perempuan sekaligus istri Zeus. Hera adalah anak dari Kronos dan Rea dan merupakan salah satu dari 12 Dewa Olimpus. Dalam mitologi Romawi, Hera dihubungkan dengan Juno. Sapi dan merak adalah hewan yang dikeramatkan untuknya. Ia digambarkan sebagai dewi yang penuh keagungan dan penuh hikmat. Hera sering ditahtakan dan dimahkotai dengan polos (mahkota berbentuk lingkaran yang hanya dikenakan oleh beberapa dewi besar).
Hera dikenal atas sifatnya yang pencemburu dan pendendam, terutama pada selingkuhan dan anak-anak Zeus. Hera juga pernah murka pada Pelias karena melakukan pembunuhan di kuil Hera, dan pada Paris yang tidak memilih Hera sebagai dewi tercantik melainkan memilih Afrodit sebagai yang tercantik.

                                 ini adalah gambar patung Hera di Museum Lourve, Perancis.

Pemujaan Hera pada masa kuno awal ditandai dengan dua proyek bangunan besar untuk memujanya. Dua kuil Hera di dua pusat pemujaaannya, yaitu kuil Heraion dari Samos dan kuil Heraion dari Argos di Argolid, merupakan salah satu kuil Yunani terawal yang dibangun, pada abad ke-8.
Dalam Himne Homer untuk Apollo Pithia, monster Tifon disebut sebagai keturunan Hera dalam wujud Minoanya. Hera diceritakan melahirkan Tifon sendirian di gua di Sisilia. Hera lalu memberikan makhluk itu pada Gaia untuk dibesarkan.
Di Olympia, patung Hera dalam posisi duduk adalah lebih tinggi dari pada patung Zeus yang menemaninya. Homer menceritakan hubungan Hera dengan Zeus secara halus dalam Iliad. Di sana disebutkan bahwa Hera berkata pada Zeus, "Aku adalah putri tertua Kronos, dan aku terhormat tidak hanya di atas bumi ini, tetapi juga karena aku adalah istrimu, dan kau adalah raja para dewa."
Dalam versi akhir mitosnya, Hera muncul sebagai dewi yang banyak menghukum para wanita selingkuhan Zeus, karena Hera menjunjung tinggi semua aturan lama masyarakat Yunani serta martabatnya sebagai istri .

                                                     ini merupakan kuil Hera di Olympia.

Kereta Hera ditarik oleh burung merak, yang baru dikenal oleh orang Yunani setelah penaklukan Aleksander yang Agung. Guru Aleksander, Aristoteles, menyebutnya "burung Persia." Motif merak dibangkitkan lagi pada masa Renaisans oleh para pelukis Eropa. Sementara pada masa yang lebih kuno, burung yang diasosiasikan dengan Hera adalah burung tekukur. Burung ini muncul dalam kisah pemerkosaan Hera oleh Zeus.
Atribut Hera yang lainnya adalah sapi. Sebagai dewi sapi, dia terutama disembah di Euboea, yang kaya akan sapi. Salah satu julukan Hera adalah Boôpis, yang ditrjemahkan sebagai "bermata sapi".
Buah delima, simbol dewi besar pada masa kuno, tetap menjadi simbol untuk Hera: banyak dari persembahan delima dan opium yang ditemukan di Samos terbuat dari gading, yang bertahan lebih lama daripada yang dari kayu, meskipun yang berbahan kayu lebih umum. Seperti dewi-dewi lainnya, Hera juga mengenakan mahkota dan kerudung.

    Le Paon se plaignant à Junon oleh Gustave Moreau, menggambarkan Hera bersama burung merak.

Rabu, 14 Desember 2011

AKHIRNYAAA

saya membuat blog ini karena tugas yang diberikan oleh dosen Pengenalan Teknologi Nusantara.. sebelumnya, saya merasa mesti menjelaskan diri saya sendiri. saya Arancxa Irene, saya sekarang berada digedung perkuliahan di Universitas Multimedia Nusantara. saya suka mendengarkan musik (karena saya suka galau sendiri ketika malam tiba, sehingga membuat saya terdorong ingin mendengarkan musik), selain itu saya juga suka membaca buku. buku terbanyak yang saya simpan dilaci buku saya adalah NOVEL ! selain itu, saya juga suka baca buku tentang pengetahuan umum dan sejarah tentang beberapa negara favorit saya seperti Yunani, Mesir, Romawi. haha.. yah saya kira, mungkin cukup sejauh ini saja. Gomawo ^.^